jump to navigation

Penerapan KTSP di Sekolah Januari 4, 2010

Posted by alin29 in Uncategorized.
trackback

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Negara Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang perlu adanya proses untuk menjadi maju, salah satu proses tersebut adalah dengan mencerdaskan anak bangsa. Dengan pendidikan yang bermutu atau berkualitas benarlah yang dapat meningkatkan kecerdasan anak bangsa. Dari zaman ke zaman sistem kurikulum pendidikan yang ada Indonesia selalu ada perubahan demi mencerdaskan anak bangsa. Salah satu sistem kurikulum yang baru saat ini adalah system KTSP (Kurikulum Tingkat satuan pendidikan).

Sejak digulirkan Juni 2006, banyak muncul persoalan dalam penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu tidak memadainya kualitas SDM yang mampu menjabarkan KTSP di satuan pendidikan, kurangnya sarana pendukung kelengkapan pelaksanaan KTSP, belum sepenuhnya guru memahami KTSP secara utuh, baik dari segi konsep maupun penerapannya di lapangan. Persoalan-persoalan tadi diperparah oleh tidak sinkronnya materi kurikulum yang dibuat oleh sejumlah penerbit yang menterjemahkan KTSP ke dalam banyak versi, sehingga membuat konsentrasi para siswa menjadi semakin terpecah karena harus membeli buku dalam banyak versi. Lebih dari itu, pengurangan jumlah jam pelajaran seperti yang diamanatkan oleh kurikulum ini berdampak kepada penghasilan guru, karena otomatis akan mengurangi penghasilan mereka, terutama guru honorer.

Dalam Pasal 36 ayat (2) UU No. 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Sementara, dalam Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, serta Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sekolah diwajibkan menyusun kurikulumnya sendiri. Akan tetapi, kebijakan ini tidak disertai sosialisasi yang memadai dan kesiapan tenaga pendidik di lapangan dalam menterjemahkan dan mengimplementasikan KTSP ini. Sehingga, yang terjadi di lapangan adalah kegagapan-kegagapan tenaga pendidik.
Pelaksanaan standar isi sesuai dengan tuntutan Permendikans No. 24 Tahun 2006, ternyata tidak semua diiringi dengan impelementasi KTSP di lapangan. Implementasi KTSP di satuan pendidikan, sebagaimana hasil observasi dan penelitian implementasi KTSP oleh Liwon dan Faojin (2008), menunjukkan beberapa klasifikasi. Paling tidak ada empat klasifikasi; Pertama, satuan pendidikan telah membuat KTSP yang dikembangkan oleh satuan pendidikan tersebut dengan melibatkan stakeholder. Kedua, satuan pendidikan telah membuat KTSP dengan mengadaptasikan/mengadopsi pada satuan pendidikan lainnya. Ketiga, satuan pendidikan telah menjiplak secara acak terhadap dokumen KTSP yang ada. Keempat, satuan pendidikan belum mempunyai dokumen KTSP dan belum berusaha menyusunnya sesuai dengan tuntutan yang ada.
Dari keempat klasifikasi tersebut, tidak lepas dari problematika yang berkembang, sesuai dengan tuntutan pelayanan pembelajaran. Pada klasifikasi pertama, proses implementasi kurikulum dalam pembelajaran masih sangat bergantung pada pengajar. Para guru belum menciptakan siswa sebagai subjek pendidikan.
Para siswa masih dijadikan objek pembelajaran. Suasana pembelajaran yang menjadikan lulusan belajar kreatif dan mandiri tidak terbiasa mereka alami. Begitu juga sarana dan sumber belajar belum maksimal dipergunakan untuk menciptakan situasi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan belum dapat diwujudkan. Sehingga, kelengkapan dokumen KTSP yang telah tersusun rapi dan ditandatangani oleh Kepala satuan pendidikan, komite, dan instansi yang bersangkutan, masih sebatas tuntutan formal satuan pendidikan, belum menjadi tuntutan pembelajaran.
Sementara itu, pada klasifikasi kedua, dengan mengadaptasi/mengadopsi pada satuan pendidikan yang lain, memberikan kekurangleluasaan para pengajar untuk mengembangkan kurikulum dalam pembelajaran. KTSP dalam impelementasinya hanya “ganti nama” dengan proses pembelajaran yang hampir sama dengan kurikulum sebelumnya, bahkan kadang tidak ada perbedaan sama sekali di lapangan. Sedangkan pada klasifikasi ketiga dan keempat, perlu sekali pengintegrasian konsep dan pemahaman KTSP dalam rangka meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Walau dari mereka ada juga yang mirip dengan semangat KTSP, belum memberlakukan dalam satuan pendidikannya.
Problem konsep kurikulum menjadi salah satu perdebatan yang muncul di permukaan. Para supervisor KTSP menilai masih banyak yang belum mengimplementasikan KTSP di satuan pendidikannya. Di mana dokumen KTSP yang disusun hanya sebagai pemenuhan formal institusi dan dalam implementasikan belum menunjukkan perbedaan yang siginifikan terhadap perubahan proses pembelajaran.
Beragam implikasi dari penerapan KTSP inilah yang kemudian memunculkan sinisme di kalangan masyarakat yang menyebut KTSP sebagai Kurikulum Katek SP, dan bahkan hingga sebutan Kurikulum Tidak Siap Pakai.
Pada makalah ini Penulis akan membahas persoalan apa saja yang menyebabkan sulitnya penerapan KTSP disekolah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa KTSP sulit diterapkan di sekolah-sekolah?
2. Bagaimana solusi untuk mengatasi kesulitan penerapan KTSP tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KURIKULUM DAN KTSP

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi (SI), proses, kompetensi lulusan(SKL), tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Apabila kita telusuri asbabul furuj KTSP, di mana konsep kurikulum menurut standar nasional pendidikan merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Konsep ini, jika ditilik mengadopsi dari konsep Beuchamp (1968:6) bahwa “A curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”. Beuchamp lebih memberi penekanan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Selain dari itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005. Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian.

Pertama, Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL.Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP.

Kedua, model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP. Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi.

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menggariskan bahwa KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip: (1). Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. (2). Beragam dan terpadu. (3). Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. (4). Relevan dengan kebutuhan kehidupan. (5). Menyeluruh dan berkesinambungan (6). Belajar sepanjang hayat(7). Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk :
- belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
- belajar untuk memahami dan menghayati,
- belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
- belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan
- belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan

B. LANDASAN DAN TUJUAN PENYUSUNAN KTSP
1. Landasan

- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2).

- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20.

- Standar Isi (SI)
SI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006.

- Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
SKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006.
2. Tujuan Penyusunan
Tujuan Panduan Penyusunan KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.

C. PRINSIP PENGEMBANGAN KTSP
Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah :
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .

KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
- Beragam dan terpadu
- Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
- Relevan dengan kebutuhan kehidupan
- Menyeluruh dan berkesinambungan
- Belajar sepanjang hayat
- Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

D. PENERAPAN KTSP DI SEKOLAH-SEKOLAH

Menurut Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc. pada kuliah umum Teknologi Pendidikan tanggal 7 september 2009 di Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya menyatakan bahwa ” Hampir seluruh guru di Indonesia hanya bisa mengkopi KTSP yang sudah ada untuk diterapkan di sekolah mereka masing-masing tanpa memperhatikan dan disesuaikan dengan potensi yang ada disekolah/ daerah tersebut.
Implementasi kurikulum dijelaskan oleh Saylor dan Alexander (1974) dalam Miller and Seller (1985 : 246) sebagai proses menerapkan rencana kurikulum (program) dalam bentuk pembelajaran, melibatkan interaksi siswa-guru dan dalam konteks persekolahan. Problem konsep inilah yang bagi pengelola pendidikan sudah melaksanakan KTSP dengan bukti adanya dokumen yang tersusun rapi.
Para supervisor menilai, para pengelola pendidikan belum menerapkan KTSP sebagaimana yang diharapkan. Di mana para pengembang kurikulum di satuan pendidikan ternyata belum mengembangkan KTSP dalam bentuk kurikulum di satuan pendidikan fungsional yang secara riil dikembangkan dalam pembelajaran. Rencana yang rapi dan sistematis menjadi tidak bermakna apabila tidak diimplementasikan secara konsisten sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakannya.
Begitu juga dalam problem pendekatan impelementasi KTSP. Di mana dalam implementasi KTSP sebenarnya lebih cenderung mengarah pada pendekatan enactment curriculum dibandingkan dengan fidelity perspective maupun mutual adaptif. Pendekatan enactment pernah dikembangkan oleh Jackson (1991 : 492) mempunyai ciri utama pelaksana kurikulum melakukan berbagai upaya untuk mengoptimalkan pelaksanaan kurikulum. Mereka menjadi kreator dalam implementasi kurikulum, yang nantinya kurikulum sebagai proses akan tumbuh dan berkembang dalam interaksi guru dan siswa. Terutama dalam membentuk kemampuan berpikir dan bertindak.
Sampai saat ini kenyataannya di lapangan masih ada beberapa sekolah yang belum benar-benar mengimplementasikan KTSP sesuai standar isi yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Munculnya persoalan-persoalan tadi disebabkan oleh tidak siapnya pemerintah membuat strategi implementasi kebijakan di atas, misalnya kurang diantisipasi kesiapan tenaga pendidik dan kurangnya sosialisasi sampai ke seluruh pelosok tanah air.
E. SEBAB-SEBAB KTSP TIDAK DAPAT DI TERAPKAN DI SEKOLAH

1. KTSP, Kurikulum yang tidak sistematis
Ketidaklogisan KTSP terjadi karena sekolah diberi kebebasan untuk mengelaborasi kurikulum inti yang dibuat pemerintah, tetapi evaluasi nasional oleh pemerintah melalui ujian nasional (UN) justru paling menentukan kelulusan siswa.
Menurut Dr. Daniel M. Rosyid sebagai Pengamat Pendidikan dalam Seminar Nasional Pro dan Kontra Seputar UNAS, Universitas PGRI Surabaya “Ujian nasional menunjukan pola sikap yang keliru, karena menafikkan peran guru. Ujian nasional menunjukkan sikap pemerintah memberikan labeling baru kepada guru, bahwa guru saat ini tidak memiliki wewenang, dan tidak mendapatkan lagi kepercayaan. Jika hal ini berlangsung secara terbuka dan terus menerus, maka guru kehilangan kewibawaan di depan siswa.”
2. KTSP tidak fungsional
Kurikulum ini menjadi tidak logis karena tidak proporsionalnya pembagian tugas pengembangan antara pemerintah dan sekolah.
3. Tidak siapnya pemerintah membuat strategi implementasi kebijakan, misalnya kurang diantisipasi kesiapan tenaga pendidik dan kurangnya sosialisasi sampai ke seluruh pelosok tanah air.
4. Kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya KTSP.

F. SOLUSI DARI PERMASALAHAN YANG DIHADAPI DALAM PENERAPAN KTSP
Segala persoalan yang muncul akibat penerapan KTSP ini seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah (Depdiknas) agar tidak menambah daftar carut marut wajah pendidikan di Indonesia. Ada beberapa kebijakan yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah, yaitu sebagai berikut:
1. Penentuan kelulusan siswa tidak harus berpatokan pada hasil nilai UN yang ditetapkan pemerintah tetapi dikembalikan pada guru yang mengajar di sekolah tersebut.
2. Seharusnya pemerintah hanya menetapkan kerangka umum dari tujuan atau kompetensi, isi, strategi, dan evaluasi, sedangkan pengembangannya secara rinci menjadi siap pakai diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik dengan berpedoman pada panduan yang disusun oleh BNSP. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan KTSP dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi kelulusan, dibawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan (SD, SMP, SMA, SMK) dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama (MI, MTs, MA)
3. Sosialisasi yang terus menerus harus dilakukan oleh pemerintah dengan menggunakan beragam perangkat media secara tepat sasaran. Agar, para pelaku pendidikan mengerti secara jelas maksud dan tujuan dari KTSP ini sehingga meningkatkan kualitas tenaga pendidik terkait konsep dan aplikasi KTSP.
4. Menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya KTSP.

Kebijakan-kebijakan tersebut harus senantiasa diobservasi dan evaluasi pelaksanaannya di lapangan, agar kebijakan itu benar-benar mencapai tujuan yang diinginkan pemerintah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
i. Landasan Hukum KTSP termuat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2).

ii. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Proses penerapan KTSP belum terlaksanakan sepenuhnya dan memang sulit untuk penerapannya. Hal ini disebabkan oleh:
a. KTSP, Kurikulum yang tidak sistematis
b. KTSP tidak fungsional
c. Tidak siapnya pemerintah membuat strategi implementasi kebijakan, misalnya kurang diantisipasi kesiapan tenaga pendidik dan kurangnya sosialisasi sampai ke seluruh pelosok tanah air.
d. Kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya KTSP.
iii. Kebijakan-kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi masalah penerapan KTSP di sekolah adalah:
a. Penentuan kelulusan siswa tidak harus berpatokan pada hasil nilai UN yang ditetapkan pemerintah tetapi dikembalikan pada guru yang mengajar di sekolah tersebut.
b. Seharusnya pemerintah hanya menetapkan kerangka umum dari tujuan atau kompetensi, isi, strategi, dan evaluasi, sedangkan pengembangannya secara rinci menjadi siap pakai diserahkan sepenuhnya kepada sekolah
c. Sosialisasi yang terus menerus harus dilakukan oleh pemerintah dengan menggunakan beragam perangkat media secara tepat sasaran.
d. Menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung terlaksananya KTSP.

B. Saran
1. Kepada Lembaga Penjamin Mutu Pendididkan (LPMP) untuk senantiasa membina dan memberikan pelatihan kepada para guru di Indonesia
2. Guru diharapkan untuk terus meningkatkan kemampuannya didalam menyusun KTSP yang dapat disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing.
3. Pemerintah harus senantiasa melakukan observasi dan evaluasi terhadap penerapan KTSP di sekolah-sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Blog Universitas PGRI Adibuana SurabayaSeminar Nasional Pro dan Kontra Seputar UNAS, http://www.unipasby.ac.id/node/, 16 Juli 2008.

Liwon dan Faojin, H.M. Menelusuri Problematika Implementasi KTSP dan SolusiAlternatifnya,http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008101023122266, 11 Oktober 2008

Media Indonesia, Dibawah Sandra kurikulum , http://urip. WordPress .com /2006/10/04/ di-bawah-sandera-kurikulum /, 04 Oktober 2006.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Pidarta, Made. Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 1997.

Tilaar, H.A.R. Standarisasi Pendidikan Nasional: Suatu Tinjauan Kritis. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS.

Yusuf Kyai, Ketidaksiapan Sekolah dan Guru Hambat Penerapan KTSP, http://yusufsupendi.multiply.com/journal/item/8/, 26 Mei 2008.

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: